Jumat, 10 Januari 2014

Empowerment

Soetrisno (1995:139) mengemukakan bahwa paradigma pemberdayaan (empowerment) ingin mengubah kondisi tersebut dengan cara memberi kesempatan pada kelompok orang miskin untuk merencanakan dan kemudian melaksanakan program pembangunan yang juga mereka pilih sendiri. Kelompok orang miskin ini juga diberi kesempatan untuk mengelola dana pembangunan, baik yang berasal dari pemerintah maupun dari pihak lain.
            Kemudian timbul pertanyaan, apa perbedaan antara model pembangunan partisipatif dengan model pemberdayaan rakyat (empowerment). Perbedaannya terlihat bahwa dalam model pemberdayaan, rakyat miskin tidak hanya aktif berpartisipasi dalam proses pemilihan program, perencanaan, dan pelaksanaannya tetapi mereka juga menguasai dana pelaksanaan program itu. Sementara dalam model pembangunan yang partisipatif keterlibatan rakyat dalam proses pembangunan hanya sebatas pada pemilikan, perencanaan dan pelaksanaan, sedangkan pemerintah tetap menguasai dana guna mendukung pelaksanaan program tersebut.
            Stres adalah istilah yang datang dari ilmu kedokteran dan secara harfiyah diartikan sebagai tekanan atau ketegangan yang memiliki kecenderungan mengganggu tubuh. Dari sudut pandang psikologi, stres dapat dikatakan sebagai segala sesuatu yang mengganggu manusia untuk beradaptasi atau mengatasi suatu masalah. Stres merupakan reaksi tubuh terhadap situasi yang tampak berbahaya atau sulit, dalam kondisi ini tubuh memproduksi hormon adrenalin yang berfungsi untuk mempertahankan diri. Sebagian besar stres muncul berasal dari pikiran negatif dan rasionalisasi yang salah yang tercipta dalam pikiran individu itu sendiri menurut Lazarus & Lazarus. Stres adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri dan mengganggu keseimbangan hidup, apabila tidak diatasi dengan baik, maka akan muncul gangguan badan atau jiwa menurut Marami. Noi & Smith menjelaskan stres psikologis merupakan interaksi antara kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri dengan situasi yang menekan. 

Dari titik pandang organisasi, manajemen mungkin tidak peduli bila karyawan mengalami tingkat stres rendah sampai sedang,Alasannya, tingkat semacam itu dapat bersifat fungsional dan mendorong kinerja karyawan yang lebih tinggi. Tetapi tingkat stres yang tinggiatau bahkan tingkat rendah tapi berkepanjangan, dapat mendorong penurunan kinerja karyawan, dan menuntutadanya tindakan dari manjemen.
            Ada dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengelola stres yaitu :
1.      Pendekatan Individu
Karyawan dapat memikul tanggung jawab pribadi untuk mengurangi
tingkat stresnya. Strategi individu yang terbukti efektif untuk mengatasi
stres yaitu :
a.                   1.Teknik teknik manajemen waktu
b.                   2.Meningkatkan latihan fisik
c.                   3.Pelatihan pengenduran
d.                  4.Dan perluasan jaringan sosial
2.      Pendekatan Organisasi
            Beberapa faktor yang menyebabkan stres yaitu tuntutan tugas, tuntutan
peran dan struktur organisasi yang dikendalikan oleh manajemen. Dengan
demikian faktor faktor ini dapat dimodifikasi atau diubah. Strategi yang
mungkin dilakukan manajemnen untuk mengelola stres yaitu :
1.Perbaikan seleksi karyawan dan penempatan kerja
2.Penggunaan penetapan sasaran yang realistis
 

Daftar Pustaka :


Soetrisno, Loekman. 1995. Negara dan Peranannya Dalam Menciptakan Pembangunan Desa yang Mandiri.  Dalam Seminar Strategi Pembangunan Pedesaan. UGM-UNWAMA. 1-3 Oktober 1987. Yogyakarta.
Lazarus, A. & Lazarus, C. (2005). Staying sane in a crazy world. Jakarta: PT.Bhuana Ilmu Populer.
Maramis, W. E. (1994). Catatan ilmu kedokteran jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
Kartasasmita, Ginanjar. 1996. Pembangunan Untuk Rakyat, Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. CIDES. Jakarta.

0 komentar:

Posting Komentar

Jumat, 10 Januari 2014

Empowerment

Soetrisno (1995:139) mengemukakan bahwa paradigma pemberdayaan (empowerment) ingin mengubah kondisi tersebut dengan cara memberi kesempatan pada kelompok orang miskin untuk merencanakan dan kemudian melaksanakan program pembangunan yang juga mereka pilih sendiri. Kelompok orang miskin ini juga diberi kesempatan untuk mengelola dana pembangunan, baik yang berasal dari pemerintah maupun dari pihak lain.
            Kemudian timbul pertanyaan, apa perbedaan antara model pembangunan partisipatif dengan model pemberdayaan rakyat (empowerment). Perbedaannya terlihat bahwa dalam model pemberdayaan, rakyat miskin tidak hanya aktif berpartisipasi dalam proses pemilihan program, perencanaan, dan pelaksanaannya tetapi mereka juga menguasai dana pelaksanaan program itu. Sementara dalam model pembangunan yang partisipatif keterlibatan rakyat dalam proses pembangunan hanya sebatas pada pemilikan, perencanaan dan pelaksanaan, sedangkan pemerintah tetap menguasai dana guna mendukung pelaksanaan program tersebut.
            Stres adalah istilah yang datang dari ilmu kedokteran dan secara harfiyah diartikan sebagai tekanan atau ketegangan yang memiliki kecenderungan mengganggu tubuh. Dari sudut pandang psikologi, stres dapat dikatakan sebagai segala sesuatu yang mengganggu manusia untuk beradaptasi atau mengatasi suatu masalah. Stres merupakan reaksi tubuh terhadap situasi yang tampak berbahaya atau sulit, dalam kondisi ini tubuh memproduksi hormon adrenalin yang berfungsi untuk mempertahankan diri. Sebagian besar stres muncul berasal dari pikiran negatif dan rasionalisasi yang salah yang tercipta dalam pikiran individu itu sendiri menurut Lazarus & Lazarus. Stres adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri dan mengganggu keseimbangan hidup, apabila tidak diatasi dengan baik, maka akan muncul gangguan badan atau jiwa menurut Marami. Noi & Smith menjelaskan stres psikologis merupakan interaksi antara kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri dengan situasi yang menekan. 

Dari titik pandang organisasi, manajemen mungkin tidak peduli bila karyawan mengalami tingkat stres rendah sampai sedang,Alasannya, tingkat semacam itu dapat bersifat fungsional dan mendorong kinerja karyawan yang lebih tinggi. Tetapi tingkat stres yang tinggiatau bahkan tingkat rendah tapi berkepanjangan, dapat mendorong penurunan kinerja karyawan, dan menuntutadanya tindakan dari manjemen.
            Ada dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengelola stres yaitu :
1.      Pendekatan Individu
Karyawan dapat memikul tanggung jawab pribadi untuk mengurangi
tingkat stresnya. Strategi individu yang terbukti efektif untuk mengatasi
stres yaitu :
a.                   1.Teknik teknik manajemen waktu
b.                   2.Meningkatkan latihan fisik
c.                   3.Pelatihan pengenduran
d.                  4.Dan perluasan jaringan sosial
2.      Pendekatan Organisasi
            Beberapa faktor yang menyebabkan stres yaitu tuntutan tugas, tuntutan
peran dan struktur organisasi yang dikendalikan oleh manajemen. Dengan
demikian faktor faktor ini dapat dimodifikasi atau diubah. Strategi yang
mungkin dilakukan manajemnen untuk mengelola stres yaitu :
1.Perbaikan seleksi karyawan dan penempatan kerja
2.Penggunaan penetapan sasaran yang realistis
 

Daftar Pustaka :


Soetrisno, Loekman. 1995. Negara dan Peranannya Dalam Menciptakan Pembangunan Desa yang Mandiri.  Dalam Seminar Strategi Pembangunan Pedesaan. UGM-UNWAMA. 1-3 Oktober 1987. Yogyakarta.
Lazarus, A. & Lazarus, C. (2005). Staying sane in a crazy world. Jakarta: PT.Bhuana Ilmu Populer.
Maramis, W. E. (1994). Catatan ilmu kedokteran jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
Kartasasmita, Ginanjar. 1996. Pembangunan Untuk Rakyat, Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. CIDES. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar